Dalam masalah sehari-hari kita mengalami banyak sekali permasalahan dan juga hal yang perlu direspon. Sebagai contoh, ketika menghadapi masalah kulit, kita bisa mengkonsultasikannya ke dokter, tanya teman, atau pun mencari informasi lewat internet. Atau, untuk zaman sekarang kita bisa langsung lewat chat GPT. Namun, pertanyaannya “informasi apa yang paling tepat?”
Dalam masa yang mudah mengakses informasi ini, yang disebut juga masa banjir informasi. Kita tentu punya kecenderungan untuk mengetik dan mencari tahu sendiri terkait pengetahuan yang kita butuhkan. Seringkali, kita membacanya dari berita, artikel, dan, Chat Gpt atau sejenisnya. Informasi-informasi ini tentu penting, dalam penggambarannya, berita membantu kita untuk berpikir empiris (sesuai dengan fakta)/mendapat pengetahuan dari pengenalan. Sedang informasi dari chat Gpt atau sejenisnya membantu kita mendapatkan informasi secara logis (sesuai dengan akal sehat) atau mendapatkan pengetahuan penggambaran.
Namun ternyata permasalahan muncul, pada masa kemudahan mendapatkan informasi saat ini. Kebenaran menjadi subjektif, kebenaran menjadi sesuatu yang seakan-akan tak ada, ketidaktepatan menyamar menjadi kebenaran, dan bahkan lebih parah pengetahuan yang dangkal sering kali tumbuh merambat dalam masa ini, masa internet. Masa kekacauan kebenaran pengetahuan ini disebut Post Truth. Tentu penyebabnya banyak sekali, namun yang paling dominan, mungkin karena akses semua bisa menjadi sumber informasi.
Pertanyaan seperti ini mungkin muncul, “Apakah semua laman berita berbohong tentang hal yang mereka dapatkan di lapangan? Atau mungkin sederhananya apakah mereka cacat berpikir empiris?” atau pertanyaan seperti ini muncul, “Apakah semua pengetahuan dalam internet tidak tepat, bohong, atau salah?” Tentu kita perlu berpikir ulang tentang pengetahuan yang selama ini kita dapatkan.
Salah satu cara bisa menyaring informasi adalah dengan berpikir kritis. Salah satu caranya adalah dengan membandingkan, meneliti, mempertanyakan, dan mengurutkan. Nah, di beberapa literatur banyak sekali pengertian dari berpikir kritis, namun pada dasarnya ia adalah cara untuk membedah suatu pengetahuan itu sendiri.
Dalam proses berpikir kritis, tentu kita tak boleh melupakan filsafat Hermeneutika/filsafat penyampain. Filsafat ini sebenar sudah digunakan dalam ilmu hadis tentunya, meskipun tak disebut demikian. Namun, meskipun dengan tambahan filsafat, seringkali filsafat ini tidak digunakan. Dasar filsafat ini adalah berfikir secara kritis terkait penyampaian informasi/atau pengetahuan yang didapat. Tentu, filsafat ini berguna untuk menyaring informasi yang telah kita dapat. Ya, meskipun ini akan menyerang atau mempertanyakan manusia atau si pembawa informasi itu sendiri. Semacam, ketika baru mendapatkan informasi soal kesehatan, yang berasal dari medsos, kita perlu mempertanyakan siapa yang menyampaikan dan darimana ia mendapatkannya. Yang tentu kebanyakan, dalam internet informasinya sangat sulit dilacak secara hermeneutika.
Pengetahuan yang telah melewati proses berpikir kritis dan hermeneutika, sebenarnya bisa didapat dari jurnal akademisi. Kenapa begitu? Tentu karena dalam prosesnya jurnal ilmiah atau pengetahuan dari akademisi telah melewati proses berpikir kritis dan sumbernya jelas.
Namun, selain pengetahuan dari journal. Ada pula pengetahuan dari dunia Jurnalistik yang dapat dipercaya karena bersifat empiris. Namun, karena pendekatan terhadap fakta yang salah, atau mungkin diabaikan, bisa saja membuat informasinya sebenarnya sesat dan menyesatkan.
Meskipun, dalam sekilas mata,pengetahuan dari dunia akademisi terlihat menyakinkan. Namun, faktanya pula banyak sekali kesalahan-kesalahan dan keteledoran karena ajang sertifikasi gelar ini. Maka, pengetahuan dari dunia akademisi, patut pula untuk dikritisi, yang mungkin secara hermeunika saja sudah cukup.
Penyatuan-penyatuan informasi dari dunia pengetahuan secara/gambaran akan memberikan kita sebuah jawaban, kemudian jawaban ini kita buktikan di dunia nyata, itu adalah berpikir ilmiah secara garis besar. Namun, kadang hanya sampai proses penyatuan pengetahuan lalu dianalisis saja sudah cukup, untuk dikatakan berpikir secara ilmiah.
“Lalu apa bedanya atau bagaimana dengan metode ilmiah?” yang membaca bertanya.
“Simak dan catat penjelasannya!”
Referensi Bacaan: Persoalan-persoalan Mendasar Filsafat, Bertrand Russel.

0 Komentar