Tidak dapat dipungkiri, pada masa yang serba buru-buru ini. Membaca rasa-rasanya seperti ingin yang pendek-pendek saja, yang cepat-cepat saja, dan yang bisa di scanning saja lewat mata. Teknik membaca scanning atau secara sekilas saja tentu membuat sastra tidak menarik. Karena seni membaca sastra adalah seni mendengarkan. Seperti dalam novel Harimau-harimau yang ditulis Mochtar Lubis, ada sebuah kalimat unik yang tertulis, “Semua orang tau itu, mereka berbisik.....tentang Buyung.” Yang mana, kalimat atau bagian titik-titik ini, akan bisa dibaca yaitu dengan adegan atau bayangan seseorang sedang berbisik sesuatu yang tak jelas.
Nicholas Sang Pujangga
Dalam memasuki dunia sastra, mungkin kita tidak asing lagi dengan sosok Nicholas Sahputra yang melejit karena perannya sebagai Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Yang bisa jadi juga membuat orang-orang tergila-gila dengan puisi dan berharap punya gebetan semacam sosok Cinta yang hits di lingkungannya.
Jika kita perhatikan dalam film itu secara seksama, kita akan mendapati bagaimana setiap kali Cinta membaca puisi rangga, akan ada seseorang yang mengucapkannya, baik Rangga maupun Cinta. Yang hal ini, semacam menjadi sebuah ilham atau petunjuk, bagaimana dulu saat masa puisi lama semacam digunakan sebagai media untuk mengungkapkan sesuatu. Dengan hati yang tulus tentunya.
Teknik membaca yang baik, juga ditunjukkan oleh Miles Studio dalam film pendek, Nicholas juga, yang berjudul Kau, Rabu, dan Perkara2 Sepintas Lalu. Dimana dalam film pendek itu, ditunjukkan bagaimana membaca yang benar, yang ekspresif dan tidak buru-buru.
Dari semua hal yang dibahas diatas, maka akan melabuhkan saya ke sebuah pemikiran pentingnya untuk adanya pentas Dramatical Reading untuk anak sekolah dasar.
Seno dan Trilogi Cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku
Dramatical Reading sebenarnya saya tau pertama kali lewat pentas dari Cerpen Seno Gumira Ajidarma yang di Youtube. Yang sebenar pentas membaca cerpen dalam video itu bukanlah hal yang sulit dan memerlukan properti semacam pentas seni drama. Ya, mungkin bisa disederhanakan bahwa Dramatical Reading hanya mendongeng atau bercerita dengan ekspresif saja.
Kesederhanaan, kemudahan, dan pentingnya mengenalkan bahwa membaca cerpen adalah bagian sebuah kesenian, adalah yang membuat saya tertarik untuk membuat program Sabtu Membaca. Mungkin tak perlu sebagus Dian Sastro dalam membaca cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku. Namun, inimembuat siswa tau bahwa tanda kata yang bercetak miring bisa jadi adalah penekan, tanda petik dua atas adalah kalimat langsung, dan semua cara membaca ini mereka akan langsung praktekkan.
Dalam Sabtu Membaca, waktu yang dibutuhkan kira-kira adalah 30 menit untuk satu orang membaca cerpen. Yang berarti, tidak semua orang bisa mementaskan atau maju ke depan, saat apel pagi, untuk membaca. Namun begitu, setidaknya akan ada 40 anak atau siswa yang bisa tampil di dalam 2 semester dan semua orang akan mendengarkan.
Tentu pula, sekali lagi, Sabtu Membaca secara Dramatical Reading ini tak akan menjadi beban bagi siswa. Namun begitu, dalam pengajaran cara membaca Dramatical Reading ini, guru perlu menunjukkan atau setidaknya melatih siswa, dan saya pikir ini lebih mudah.
0 Komentar