Sumber: Wikipedia
Akhir-akhir ini saya sangat tertarik dengan isu lingkungan. Dimana hal ini tak lepas dari fakta bahwa saya yang sedang pulang kampung ke Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Kabupaten ini terkenal dengan daerah wisata Dieng-nya dan mayoritas penduduknya yang berprofesi sebagai petani, yang katanya adalah Tanah Para Dewa. Mungkin sebutan Tanah Para Dewa ini karena kesuburan tanahnya membuat Dieng disebut begitu. Yang mana, tak terlepas juga dari Daerah Wonosbo yang dikelilingi oleh beberapa gunung berapi.
Disaat saya pulang kampung ini juga, saya sempat menulis kesan saya setelah pulang dalam sebuah tulisan yang dimuat di LPM SQ Unsiq, Wonosobo, Jawa Tengah. Dimana, saya mengunkapkan bagaimana saya senang dengan udara dan lingkungan yang dapat memberikan ketenangan dengan udara yang dihirup. Lalu saya menyayangkan adanya usaha pemerintah untuk membuat kabupaten ini menjadi sentra industri.
‘Apakah saya anti kemajuan ekonomi dan pembangunan?’ Mungkin orang akan berfikir begitu.
Jujur, ketika harus menjawab pertanyaan itu, saya akan mengatakan,”ya!”
Banyak hal yang membuat saya berfikir seperti itu, salah satunya adalah film The Lorax. Film ini yang membuat saya berfikir bahwa mungkin saja rencana-rencana manusia tentang kemajuan dan pembangunan sebenarnya adalah rencana menuju kemunduran dan kehancuran manusia itu sendiri. Salah satu contoh yang bagus mungkin adalah plastik, yang dalam peradaban manusia plastik adalah sebuah kemajuan. Ternyata saat ini kita bingung untuk mengolahnya dan kadang suka memasukkan sampah plastik ke tempat sampah organik.
Tentang film yang akan menjadi masa depan kita, The Lorax sebenarnya adalah film yang berasal dari buku anak-anak yang ditulis dan diilustrasikan oleh Dr. Seuss. Kemudian, pada tahun 1972 difilmkan dalam kartun dengan nama yang sama, yaitu The Lorax. Film ini cukup pendek dengan hanya memiliki durasi 25 menit dan dapat ditonton di archive.org. Lalu pada tahun 2012 difilmkan dalam bentuk 3D dengan judul The Lorax. Dimana perilisannya film ini bertepatan dengan ulang tahun Theodor Seuss Geisel dengan nama penanya Dr. Seuss sebagai pengarang cerita buku anak-anak ini.
Gambar: Sampul Buku The Lorex (Sumber : Wikipedia)
Masa Depan Kita
“Halo semuanya, terimakasih sudah membaca. Aku Penulis, Aku juru bicara dari pepohonan. Aku ingin menyampaikan beberapa kata jika kalian tidak keberatan. Mengenai tulisan ini dan film The Lorex yang akan atau sudah kalian nikmati, percayalah! Ini benar-benar terjadi…….” Begitulah parodiku saat mahluk mistik The Lorex menyampaikan penyambutan di awal film. Tentu saja parodi ini berbeda, maka temukanlah perbedaannya didalam filmnya!
Adapun untuk ceritanya, ada remaja bernama Tad yang jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Audrey. Audrey ini memiliki hobi melukis dan mempunyai impian untuk dapat melihat pohon yang asli. Hal itu dikarenakan kota masa depan yang bersih dan futuristic dipenuhi oleh pohon yang terbuat dari plastik, air yang tercemar, dan oksigen yang harus membayar. Lebih parahnya, hampir semua orang yang hidup di kota yang terisolasi dari bumi yang tercemar itu. Sehingga tidak pernah melihat pohon yang asli tapi mendengarnya hanya dari orang-orang tua yang telah diabaikan.
Akan tetapi Nenek Tad menyarankan untuk bertemu dengan Once-ler, yaitu orang yang mengetahui nasib pohon-pohon yang asli. Maka dimulailah kisah Tad yang pergi ke bumi yang tercemar dan menemui Once-ler.Tad pun medengarkan kisahnya yang dapat kita tonton. Dimana kisah Once-ler adalah kisah industrilisasi dan penebangan pohon. Di proses inilah juga, Once-ler mendapat peringatan dari mahluk mistik, The Lorax, juru bicara dari para pohon yang tak memiliki mulut untuk berbicara. Lalu….?! Sikahkan tonton sendiri filmnya!
Anabel saya (Analisa gembel, parodi Baskara Putra dari Hindia)
Untuk mengetahui dan mendapatkan pesan dari film ini sebenarnya tidaklah repot dan susah. Ini hanya seperti kita tahu bahwa “Buanglah sampah pada tempatnya.” Tapi selayaknya orang yang tau tapi tidak sadar, maka mungkin kita perlu membahas lebih dalam. Atau mungkin membahas lebih asik tepatnya.
Pada film ini terdapat orang yang menjual oksigen yang dihirup manusia dan mendapatkan keuntungan dari usaha itu. Padahal oksigen adalah kebutuhan semua manusia, tanpa itu kita mati, dan hampir semua mahluk hidup perlu. Dimana, seperti yang kita ketahui bahwa oksigen itu gratis saat tahun 2012 dan sekarang. Kalo untuk masa depan, “Masa depan, nggak ada yang tau!” Begitulah kira-kira ucapan bijak sejuta umat.
“Apakah itu mungkin?” Kira anda bertanya begitu.
“Sangat, amatlah mungkin!” Begini saya menjawab.
Jawaban saya diatas bukanlah candaan, saya serius. Hal ini dikarenakan saya mendapatkan bukti keluhan teman saya di Jogja dan Kabupaten Wonosobo tentang air dan udara yang menjadi kebutuhan kita, ( Mungkin ini adalah bukti yang lemah, tapi silahkan anda nilai sendiri apakah ada disekitar anda!) yaitu: Pertama, pada status teman di Jojga. Saya membaca dan melihat keluhan dia di daerah sekitar Universitas Gajah Mada. Kedua, saya mendapatkan keluhan tentang air minum yang sudah dijual belikan dengan harga mahal. Padahal dia dari daerah pengunungan. Jika kita bertanya pada orang tua yang ada sekitar kita, mungkin mereka menganggap itu hal yang tak mungkin bahwa ada yang menjual air dalam kemasan? Bukankah air itu gratis dan sesuatu yang mudah didapat?! Lalu dari mana perusahaan air minum mendapat mata air? Bagaimana nasib orang di sekitar mata air yang airnya dijual oleh suatu perusahaan? Apakah mungkin udara bersih beberapa tahun lagi juga akan menjadi bahan dagangan? Mungkinkah dalam suatu botol, kantong kresek, juga botol kaca uadara bersih itu akan dijual? Atau mungkin lebih tepatnya, apakah masa depan kita seperti di film The Lorex?

0 Komentar