Jika kita mulai membahas puisi Indonesia, tentu nama Chairil Anwar akan berkali-kali muncul. Di soal ujian anak SD, mungkin akan terlihat sajak Diponegoro, dengan anggapan bahwa sajak ini adalah sajak menghormati Pangeran Diponegoro. Di SMP, mungkin akan mulai muncul sajak “Aku,” yang semua orang tau “Aku (adalah) binatang jalang” adalah Chairil Anwar sendiri.
    “Siapa Chairil Anwar?” Mungkin adalah pertanyaan klise seorang guru di depan murid. Atau, mungkin juga guru malas untuk mempelajari kehidupan Chairil Anwar sendiri. Ya, sebagian kecil orang, yang membaca Chairil Anwar tau bahwa ia bukanlah orang baik yang tercatat sholat malam, berdzikir, ataupun terkenal akan kebaikannya. Maka, tak heran, saya waktu SMP dan sebagian orang mungkin akan mengira bahwa “Diponegoro” puisi kepahlawanan. Bahkan bagi Chairil Anwar sendiri, puisi ini adalah puisi yang gagal.

    Meskipun puisinya Chairil Anwar adalah puisi yang coba-coba, berubah-ubah bentuk, dan sulit dibaca. Tapi, hampir semua orang setuju bahwa Chairil lah yang membuat bahasa, puisi, dan sastra indonesia tak mendayu-dayu seperti khas Melayu. Puisinya adalah puisi yang terang, tanpa kiasan, tanpa basa-basi, langsung pernyataan, dan puisi dalam bahasa keseharian.

    Siapapun anda, anda boleh tidak menyukai sosok, diri, atau kehidupan bohemian(jalangnya)-nya Chairil. Namun, sejarah dan waktu telah membuktikannya, setelah Chairil, dengan beberapa belas sajaknya, telah membuat orang sezaman dan setelahnya tak membuat puisi-puisi atau sajak khas Angkatan 30’ atau Pujangga Baru, seperti S. Takdir Alisyahbana. Dimana Takdir sendiri, mencemooh puisi Chairil sebagai puisi “rujak,” segar tapi tak bergizi. Chairil pun memendam pemberontakan pada angkatan 30’ ini, dan ia telah membuktikannya.

    Kita akui Chairil sebagai pembaharu puisi. Namun pertanyaannya, “darimana ia mendapatkan puisi-puisi itu, atau dari mana idenya?” Yang pertanyaan serupa ini, jika kita berikan pada tokoh-tokoh semacam Sapardi, Joko Pinurbo, atau bahkan Aan Mansyur, kita dapat melihat polanya, pola yang sedikit banyak terilhami oleh Chairil.


 Chairil Menipu Kita?

    Chairil Anwar adalah sosok pemuda yang khas dengan darah yang penuh vitalitas, individualisme, dan menggebu-gebu. Tentu kesan-kesan semacam ini adalah hal yang sangat melekat, karena ia tak pernah tua, menjadi layu, atau menjadi kaku. Ia mati muda di umur 27, tanpa terkutuk menjadi tua. Hal ini mungkin salah satu keberuntungan mati muda, jika kita kutip keyakinan Soe Hoe Gie, yang juga mati muda dan mengagumi Chairil.

    Yang muda, adalah yang bebas. Bebas Chairil disini, mungkin adalah makna kebebasan dunia malam, dunia playboynya, dan juga kebebasan Chairil sendiri dari Angkatan 30’ ke bawah. Namun, bebas bukan berarti ia tak melakukan apa-apa. Chairil bebas membaca apa saja. Ini, ia lakukan dari mencuri buku di toko buku, hingga meminjam buku-buku H.B. Jassin tanpa bilang dulu. Ia adalah orang yang amat kehausan akan membaca, yang tentu untuk pembaharuan sastra Indonesia. Semangat ingin menjadi pembaharu, penghancur, pelopor inilah, yang amat khas dengan darah muda.


    Dalam terjemahan yang dibuat oleh Chairil Anwar, atau bahkan saduran, kita akan dapati rasa perasaan tertindas dan kesia-siaan. Salah satu puisi saduran yang memuat hal itu adalah dari “Karawang-Bekasi,” sedang terjemahannya adalah “Lagu orang usiran.”

(Gambar puisi lagu orang usiran)

    Puisi yang disadur-diterjemahkan oleh Chairil memang terasa senada. Ini tentu tak lepas dari sisi sosiologi penyair sendiri yang mengalami udara keras tahun 1940-an. H.B. Jassin menyebutnya sebagai perubahan bentuk puisi yang tak lepas dari keadaan masa penjajahan Jepang yang penuh tekanan, yang membuat Chairil dan Idrus (Pembaharu Prosa), pergi ke pelariannya, yaitu dasar jiwa dan menjadikan jiwa mereka sendiri menjadi lebih kuat.

    Diketahui pula, beberapa puisi yang dibuat oleh Chairil adalah puisi saduran. Yang kapan hari, baru ketahuan setelah ia meninggal. Puisi-puisi ini adalah puisi yang terkenal sekarang, puisi-puisi ini adalah puisi sering dibawakan, dan puisi-puisi yang kita sangka sebagai puisi Chairil. Hasan Aspahani, penulis novel Chairil Anwar, dalam sebuah acara Salihara berucap semacam ini, “Chairil Anwar memasukkan puisi saduran, yang ia akui sebagai puisi sendiri. Ini semacam Chairil ingin mengejek betapa bodohnya, betapa tak membacanya orang indonesia."

    Ketika kita masih menggangap puisi Karawang-Bekasi adalah sebagai puisi Chairil. Mungkin sampai sekarang Chairil mengejek kita. Ya, kita masih diejek oleh Si Binatang Jalang ini. Dan, mungkin akan muncul pertanyaan seperti ini,

    "Jadi apakah kita telah ditipu Chairil Si Binatang Jalang?! Atau bangsa ini saja yang bodoh dan malas membaca, sehingga bisa ditipu?"