Meskipun puisinya Chairil Anwar adalah puisi yang coba-coba, berubah-ubah bentuk, dan sulit dibaca. Tapi, hampir semua orang setuju bahwa Chairil lah yang membuat bahasa, puisi, dan sastra indonesia tak mendayu-dayu seperti khas Melayu. Puisinya adalah puisi yang terang, tanpa kiasan, tanpa basa-basi, langsung pernyataan, dan puisi dalam bahasa keseharian.
Siapapun anda, anda boleh tidak menyukai sosok, diri, atau kehidupan bohemian(jalangnya)-nya Chairil. Namun, sejarah dan waktu telah membuktikannya, setelah Chairil, dengan beberapa belas sajaknya, telah membuat orang sezaman dan setelahnya tak membuat puisi-puisi atau sajak khas Angkatan 30’ atau Pujangga Baru, seperti S. Takdir Alisyahbana. Dimana Takdir sendiri, mencemooh puisi Chairil sebagai puisi “rujak,” segar tapi tak bergizi. Chairil pun memendam pemberontakan pada angkatan 30’ ini, dan ia telah membuktikannya.
Chairil Menipu Kita?
Chairil Anwar adalah sosok pemuda yang khas dengan darah yang penuh vitalitas, individualisme, dan menggebu-gebu. Tentu kesan-kesan semacam ini adalah hal yang sangat melekat, karena ia tak pernah tua, menjadi layu, atau menjadi kaku. Ia mati muda di umur 27, tanpa terkutuk menjadi tua. Hal ini mungkin salah satu keberuntungan mati muda, jika kita kutip keyakinan Soe Hoe Gie, yang juga mati muda dan mengagumi Chairil.
Dalam terjemahan yang dibuat oleh Chairil Anwar, atau bahkan saduran, kita akan dapati rasa perasaan tertindas dan kesia-siaan. Salah satu puisi saduran yang memuat hal itu adalah dari “Karawang-Bekasi,” sedang terjemahannya adalah “Lagu orang usiran.”
(Gambar puisi lagu orang usiran)
Puisi yang disadur-diterjemahkan oleh Chairil memang terasa senada. Ini tentu tak lepas dari sisi sosiologi penyair sendiri yang mengalami udara keras tahun 1940-an. H.B. Jassin menyebutnya sebagai perubahan bentuk puisi yang tak lepas dari keadaan masa penjajahan Jepang yang penuh tekanan, yang membuat Chairil dan Idrus (Pembaharu Prosa), pergi ke pelariannya, yaitu dasar jiwa dan menjadikan jiwa mereka sendiri menjadi lebih kuat.
Diketahui pula, beberapa puisi yang dibuat oleh Chairil adalah puisi saduran. Yang kapan hari, baru ketahuan setelah ia meninggal. Puisi-puisi ini adalah puisi yang terkenal sekarang, puisi-puisi ini adalah puisi sering dibawakan, dan puisi-puisi yang kita sangka sebagai puisi Chairil. Hasan Aspahani, penulis novel Chairil Anwar, dalam sebuah acara Salihara berucap semacam ini, “Chairil Anwar memasukkan puisi saduran, yang ia akui sebagai puisi sendiri. Ini semacam Chairil ingin mengejek betapa bodohnya, betapa tak membacanya orang indonesia."
Ketika kita masih menggangap puisi Karawang-Bekasi adalah sebagai puisi Chairil. Mungkin sampai sekarang Chairil mengejek kita. Ya, kita masih diejek oleh Si Binatang Jalang ini. Dan, mungkin akan muncul pertanyaan seperti ini,
"Jadi apakah kita telah ditipu Chairil Si Binatang Jalang?! Atau bangsa ini saja yang bodoh dan malas membaca, sehingga bisa ditipu?"







0 Komentar