Saya telah membaca dua bab, yaitu Bab Satu: Saya Hanya Memberi Getaran dan Bab Dua: Lamakasa dan Tjitrowardojo. Dimana, bab satu memberikan penjelasan siapa Habibie, sedang bab dua menjelaskan silsilah keturunan dari Habibie itu sendiri. Silsilah yang dimaksud, mungkin lebih tepatnya ke arah nenek moyangnya.
Bab 1: Saya Hanya Memberi Getaran
Dalam hal prestasi, mungkin banyak hal yang telah dicapai oleh seorang Habibie. Tapi pertanyaaannya, “apakah hidup Habibie didedikasikannya untuk mengincar prestasi atau ia mengincar kebermanfaatan untuk orang lain?,” adalah hal yang sangat penting ketika kita melihat zaman ini. Ya, zaman orang ingin sekali mendapatkan hal-hal berbau validasi.
“Yang lebih penting sebetulnya bahwa kehadiran dan keberadaan B.J. Habibie bagaikan angin yang telah memberikan getaran pada serumpun bambu, sehingga semua bambu disekitarnya jadi ikut bergetar keras dan makin keras, sehingga tidak ada lagi yang bisa menghentikan angin yang telah menggetarkan bangsanya.” Ucap manis buku ini kepada saya.
Ya, kebermanfaatan adalah yang paling penting.
Mungkin terlihat idealis sekali dan terlihat naif. Tapi, coba pikirkan lagi kenapa ada penghargaan Nobel, kenapa ada Honoris Causa, dan penghargaan-penghargaan lain. Apakah seseorang yang telah mendapatkan ijazah jelas akan bermanfaat, apakah jangan-jangan orang ingin kuliah hanya agar dirinya dan keluarganya selamat, kaya, dan hidup tenang. Coba pikirkan sekali lagi!
Namun, kebermanfaatan Habibie sendiri lambat direspon oleh pemerintah indonesia. Ya, indonesia memang selalu saja mengekor dan ikut-ikutan. Ketika seisi kelas mencontek, maka karakter orang indonesia akan mencontek; Jika tetangga mendapatkan sembako, ia akan langsung meminta sembako juga, jika tidak akan irilah dia, akan marahlah dia, dan akan merasa kuranglah dia. Ketika tetangga memiliki mobil, ia akan mencoba untuk memiliki mobil. Ketika tetangga dan banyak orang memilih Prabowo-Gibran, maka memilihlah dia Prabowo-Gibran. Kaum yang ikut-ikutan dan tidak berpendirian.
“Kepada bawahannya dan kepada teman, B.J. Habibie selalu menuntut profesionalisme dalam bekerja. Karena itu, ia selalu menghendaki adanya konsistensi dalam pekerjaan, ilmu, tujuan, dan cita-cita. Dalam hubungannya dengan pekerjaan, orang harus belajar sedikit demi sedikit. Salah sedikit, tidak apa, tetapi mulai lagi dan cari apa kesalahan itu. Tidak apa, ini namanya proses belajar. Tidak ada cara yang paling baik untuk belajar kecuali dengan terjun langsung menyelesaikan persoalan. Seminar untuk sekedar seminar dan seribu diskusi bukannya tidak penting, tetapi tidak begitu banyak dihargainya. Ukuran keberhasilan seseorang bisa diukur dari berapa banyak masalah yang dipecahkan dan diselesaikannya. Bekerja saja, tidak perlu banyak berdebat pada sesuatu hal yang tidak begitu penting, karena tidak akan menghasilkan apa-apa dan malah tidak produktif. Jika kau seorang penyair, jadilah penyair. Jika kau seorang ahli konstruksi, jadilah ahli konstruksi. Jika kau seorang ahli mekanika, jadilah ahli mekanika. Akan tetapi, jadilah orang yang unggul. Hanya dengan bekerja konsisten seseorang menjadi unggul, seseorang bisa menguasai detail. Karena itu, penguasaan detail tidak berarti belajar pada hal tetek bengek, tetapi barang siapa yang tidak menghargai satu plening (uang receh jerman), maka ia tak pantas untuk memiliki satu taler (Uang banyak lah pokoknya). Inilah pepatah Jerman yang sering dikatakannya kepada teman-temannya yang tidak menghargai detail."
Bab 2: Lamakasa dan Tjitrowardojo
“Apakah darah lebih penting daripada keringat?” Adalah hal yang saya pertanyakan setelah menyelesaikan bab ini.
Alkisah, diceritakan bahwa garis keturunan Habibie dari jalur ayah adalah adalah orang pelarian Kerajaan Gowa yang lari ke Gorontalo, dengan nama keluarga Lamakasa. Kakeknya sendiri terkenal sebagai orang yang terhormat dan adalah seorang imam adat. Singkatnya, keturunan dari jalur ayah adalah orang agamis. Meskipun begitu, bukan berarti ayahnya tak berpendidikan. Ayahnya Habibie, Alwi Abdul Jalil Habibie, bersama lima orang lainnya, yang juga bukan orang dari keluarga biasa, bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) sebagai angkatan pertama.
Sementara itu, kisah tentang silsilah keluarga dari ibu Habibie, R.A. Tuti Marini Puspowardojo, adalah sebuah keluarga yang mayoritas anak-cucunya adalah seorang dokter. Dimana Dr. Tjitrowardojo adalah salah satu hasil dari politik etis dari belanda dan meraih gelar Diploma Dokter Djawa pada 22 Desember 1868. Adapun, hal yang patut dicatat adalah meskipun garis keturunan ini adalah garis keturunan orang terdidik dan terhormat. Tetapi di keluarga ini tak pernah melupakan agama dan kebermanfaatan ilmu. Nasihat dari Tjitrowardojo antara lain, “Sopo wonge sing gede panarimane, andap asor, wedi marang goesti Allah, trisno nang wong toewane, sanak sedoeloere, lan papandan oerip, bakal gede gandjarane ing dino boerine” (Siapa yang besar hatinya, rendah hati, takut kepada Allah, menyayangi orang tua-sanak familinya, serta menjaga kehormatan/nama baik dirinya, maka bakal besar pahalanya di hari-hari setelah kematian).
“Jadi pertanyaannya, apakah darah lebih penting dari keringat?” Pertanyaan pembaca yang mencoba membandingkan garis keturunannya dengan orang lain.
Jawaban Saya
Tidak dapat dipungkiri. Jika anda adalah anak dari orang yang kaya, maka kemungkinan anda menjadi kaya adalah sangat mungkin. Jika anda adalah seorang anak dari seorang dokter maka amat hampir tidak mungkin anda akan menjadi seorang tukang parkir atau pengemis. Namun, apalah artinya pekerjaan, jabatan, dan kekayaan. Jika, bukan nilai kebermanfaatannya yang diwariskan.
“Dadi o wong kang pinter, nanging ora minteri, (Jadilah orang yang pintar, tapi tidak memintari/culas kepada orang lain” adalah kalimat sederhana yang mungkin diucapkan oleh orang-orang lemah dan bodoh ketika melihat anak bersekolah. Ya, kepintaran/kecerdasan tanpa akhlak dan nilai-nilai keagamaan yang kuat hanya akan melahirkan orang-orang macam Gibran-Kaesang yang culas. Dan, bahkan akhlak dan kejujuran sudah menjadi sebuah hal yang amat langka.
“Asal saya-keluarga selamat, saya rela orang lain melarat. Asal saya-keluarga kaya, saya tak peduli orang lain akan jadi apa.” Mungkin seperti ini adalah pemikiran orang-orang jaman sekarang. Dan, sepertinya anda, orang yang sedang membaca akhir tulisan ini, harus coba menghitung-hitung kebermanfaatan ilmu dan zakat mal atas harta anda. Atau, anda sudah siap masuk neraka?!
0 Komentar