Saya baru saja membeli sebuah buku. Buku ini berjudul B.J. Habibie: Kisah Hidup dan Karirnya, yang merupakan sebuah buku biografi. Adapun, buku ini dibuat oleh A. Makmur Makka yang ditulis pada tahun 1987, lalu dicetak ketujuh kalinya dengan penambahan 4 bab sampai tahun 1999. Ya, sebuah biografi dari orang lain disaat sang tokoh masih hidup.

Jika melihat buku ini sekilas, saya sebenarnya ragu untuk memilihnya ketika masih dalam bentuk gambar di postingan Facebook seorang teman yang menjualnya dengan keadaan bekas. Akan tetapi, ketika saya memikirkan kembali bagaimana saya tidak pernah melahap secara utuh sosok seorang Habibie. Saya pikir ini akan menarik.

Saya  akui bahwa saya mengenal habibie secara sepotong-potong atau tidak komprehensif. Melalui semua Film Habibie, narasi populis di internet, dan juga pengetahuan yang entah darimana-mungkin dari lingkungan dan algoritma media sosial-, saya punya gambaran tentang Habibie. Mr. Crack, bapak dirgantara, orang menjadi pahlawan di Timor Leste dan sebagainya adalah potong-potongan dalam benak saya. “Hanya melihat hasilnya,” mungkin sangat pas ditujukan kepada saya ketika saya coba menyampaikan siapa Habibie.

Jika kembali membicarakan buku dan juga Film yang membahas tentang seseorang atau tokoh, mungkin kita melihat Gie. Ya, Soe Hok Gie. Dimana kita tahu, Gie punya film yang membahas dia dan juga buku-bukunya, yaitu film Gie dan juga buku hariannya berjudul Catatan Seorang Demonstran (CSD).

CSD dan film Gie adalah sesuatu yang perlu dibahas, yaitu bagaimana film adalah karya refleksi dari Buku dan bahan-bahan lainnya dicampur, dipikirkan, dan dibuat versi lite/ringkasnya dibandingkan karya biografi/catatan harian sang tokoh. Dan, patut dicatat, film dan bukunya akhirnya menjadi sebuah hal yang berbeda, entah dalam ukuran, penyuntingan, pemotongan informasi, atau hal dasar semacam ‘ya, media aja berbeda. Maka, jelas berbeda!”



Kritik Sastra, Re-refleksi, dan Penafsiran Ulang.

Salah satu perubahan dalam hidup saya adalah perihal wacana saya perihal ‘Kritik Sastra.’ Dan apabila diingat-ingat orang pertama kali membuat saya tertarik membaca kritik sastra adalah Izzul dari LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Kavling, seorang pedagang buku bekas Wilis, itu julukan saya pada dia, hormat penuh pada dia.

              Heem….mungkin saya akan cerita mulanya saja, perihal Izzul. 

Jadi, saat itu Izzul mengomentari perihal tulisan resensi saya terhadap buku Pak Soesilo Toer, bukunya berjudul Kisah Penebang Kayu dan lainnya. Itu tulisan kebanggaan saya, ya karena merasa jujur dan bisa mencurahkan apa yang saya alami di hari ini-Tragedi Kanjuruhan-, mengkritik sastra, dan menafsiri ulang buku itu. Semua menjadi satu.

“Untuk membahas sastra (mungkin kritik sastra yang dimaksud, tapi tak dijelaskan) itu ada caranya sendiri,” semacam itulah chat Izzul di Group Tongkrongan PersMa (Pers Mahasiswa) Malang, yang mengkritik tulisan saya.

Jujur, saya bingung kata-katanya. Tidak jelas dan terkesan menyembunyikan sesuatu. Maka, saya abaikan. Lalu, beberapa hari kemudian resensi saya di repost di IG Pataba Press, milik keluarga Toer. Saya amat senang saat itu dan merasa hati saya yang mensyukuri pernah membaca tulisan Soesilo Toer yang sangat sastrawi, akhirnya tersampaikan. Maka, sejak itulah tulisan saya terbentuk dan merasa mantap terhadap tulisan saya yang bergaya “bercerita.” Seperti yang tertulis dalam buku Andaikan Saya Wartawan Tempo. Tapi, ternyata saya masih menyimpan informasi perihal chat Izzul di Otak terdalam saya, alam bawah sadar saya, atau semacam recycle bin di diri saya.

Beberapa bulan kemudian saya kunjungan ke Willis, saya bertemu dengan  Mas Fajar, pedagang buku bekas yang mirip Izzul itu. Dan, saya menemukan bukunya Pak Sapardi berjudul Sosiologi Sastra. Saya membelinya dengan jaminan bagus oleh nama Pak Sapardi, dan akhirnya-setelah membaca buku itu- saya paham makna chat Izzul. Ya, chat yang seperti ingin menyembunyikan ilmu itu dan akhirnya terjawab oleh melalui tangan kembarannya sendiri. Izzul sang pedagang buku Wilis.

“Apa yang kamu pahami, San?” Pembaca tulisan ini sedang ada dalam adegan wawancara dan sedang berdiri.

“ Jadi, menurutku, yang dimaksud sama Izzul itu adalah perihal Kritik Sastra. Ya, Kritik sastra sebenarnya bukan kritik. Tapi lebih ke arah mencoba menafsiri, mengambil pesan si penulis, dan merefleksikannya kembali. Ya, seperti sub judul di pembahasan ini. Coba Cek!

Namun, patut dicatat juga. Dalam kritik sastra, yang sangat diperlukan dalam memberi komentar/tanggapan adalah kejujuran. Jika karya seseorang jelek, ya bilang jelek. Dan, jelaskan kenapa jelek atau kenapa bagus.

Ini mungkin hanya prinsip saya saja. Tapi, silahkan anda pikirkan, anda melihat seseorang membuat tulisan, kemudian anda hanya berkomentar keren, bagus, dan semacamnya tanpa menjelaskan. Bukankah anda hanya berbohong dan tidak mau jujur dengan diri anda sendiri? Bukankah anda hanya sweet lips dan hanya menjadi seorang yang suka berbohong/bersembunyi? Berbohong dan bersembunyi perihal anda sudah membaca atau belum, menikmati atau belum, dan punya keluhan atau tidak. Ya, anda menjadi pembohong dan membiarkannya abu-abu. ‘keren’ seperti apa, ‘bagus’ seperti apa, dan pertanyaan sejenis adalah sebuah rasa takut anda bahwa pendapat anda bisa saja salah dan dapat digugurkan. Anda takut, seperti Eza dan Delta.” Saya duduk disebuah bangku bagus yang mewah, dengan segelas kopi Wine Gayo, dan istri saya yang cantik. Ini dalam adegan imajinatif saya.

“Lalu apa tujuan tulisan ini?” Pembaca tulisan saya bertanya-tanya setelah membaca kalimat pertanyaan ini.

“Jadi, tulisan ini adalah pengantar untuk series kritik buku saya terhadap buku biografi Pak Habibie. Nantinya, tulisan ini akan menjadi semacam tulisan kritik sastra. Ya, agar buku, pelajaran, dan apapun dari Habibie sendiri tetap relevan.”

“Tapi kok ngalor-ngidul, gak jelas!?”

“Ya, kan ini tulisan dan media saya. Ya, terserah saya. Gitu aja kok repot.” Saya coba menirukan ucapan terkenal seorang esais di masa tuanya, Gus Dur.