Kontestasi Pemilu 2024 sudah usai. Gema-gema semacam kampanye dan juga baliho-baliho pemilihan mulai turun dari pohon, tiang listrik dan pemandangan dari bahu jalan. Sedangkan kaos-kaos partai, mungkin masih akan kita lihat dibadan orang-orang pinggiran kota, petani, atau kaum menengah bawah lainnya.

Semua orang mulai melupakan pemilu. Melupakan mereka memilih siapa kemarin atau juga mulai tidak peduli lagi perihal pemilu. Dengan alasan menjaga perdamaian atau untuk menjaga kestabilan negara, orang menjadi tidak peduli dan tidak mau mengingat permasalahan-permasalahan pemilu. Sehingga ketika seorang pejabat atau pihak penguasa berbuat salah, kita akan bilang,”Ini salah dia.” Padahal kita punya peranan saat Pemilu untuk memilih atau tidak seseorang itu.

Setelah Pemilu, kita paling hanya akan mengingat tentang hal-hal yang khas di pemilu kita, seperti serangan fajar, komeng yang berpolitik uhuy, atau juga perihal caleg cantik yang bisa mendapatkan suara banyak. Ya, kita memang tidak pernah belajar. Pemilu kita adalah pemilu ‘asal’, karena asal tau namanya, kita memilih krisdayanti masuk ke parlemen; karena asal lucu, Komeng memperoleh suara rakyat; karena asal muka nya baik, kita memilih Jokowi; dan asal ada Jokowi kita memilih Prabowo-Gibran.

Ketika membahas Prabowo-Gibran, tentu nama Jokowi tak boleh ketinggalan. Mulai dari kejadian Jokowi membuat Prabowo masuk pemerintahan, mantunya dan anaknya menjadi kepala daerah, dan juga terbentuknya pasangan Prabowo-Gibran. Ya, Jokowi adalah seorang King Maker yang cerdas sekaligus culas. Sikap culas/curang-nya Jokowi dapat kita lihat dalam banyak hal. Mulai dari pengubahan Undang-undang, pengerahan alat-alat negara, hingga manipulasi hasil perolehan hasil pemilu.

Salah satu contoh paling menonjol-orang suka pura-pura lupa dan bodoh atau memang bodoh-adalah adanya penurunan syarat batas usia untuk menjadi calon presiden atau wakil presiden yang dibantu oleh paman Anwar Usman kepada si keponakannya, Gibran Rakabuming Raka.

Secara lengkapnya, semua informasi ini bisa kita dapat di Film Dirty Vote, Dialog Spesial Rakyat Bersuara, dan liputan-liputan Tempo yang masih berani berparadigma kritis. Atau, kita juga bisa melihat opini-opini Tempo yang meringkas kejadian sebelumnya, jika memang sangat sibuk, seperti opini Kekuasaan: Kunci Prabowo Subianto Menang Pemilu Satu Putaran yang menyuruh kita agar tidak lupa atas pemilu yang curang ini. Lalu, masihkah kita beralasan dan menutup mata?!

“Ah, nih tulisan cuma mau jelek-jelekin Jokowi dan nggak terima Prabowo-Gibran menang!” Mungkin, seseorang yang malas membaca dan bodoh akan berucap dalam batinnya seperti itu.

“Kan, udah selesai acara Pemilu. Harusnya, jangan dibahas lagi dan mending ngurusin urusan sendiri aja dan kepentingan masing-masing!” Dosen dan juga mahasiswa apatis atau yang tidak peduli, mungkin akan bilang seperti itu.

Pengkhianatan kaum terpelajar

            Civitas akademis kampus, Mahasiswa dan dosen, mempunyai tanggung jawab atas keilmuan dan kepintarannya. Ia mempunyai tanggungjawab untuk membantu masyarakat dan menyampaikan apa-apa yang salah dan benar, baik dan buruk, ataupun abu-abu. Seperti yang ditulis oleh Moehamad Hatta: Pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. Karena wujud ilmu sebenarnya adalah mencari kebenaran dan membela kebenaran.

            Nah, bentuk negara demokrasi sendiri sebenarnya adalah konsep negara yang mampu berfikir logis. Yaitu mampu menimbang dan memilih seseorang bukan hanya melalui penampilan atau citra fisiknya saja. Yang tentu, negara demokratis tak ada caleg yang mau menyogok seseorang dengan uang ataupun sembako. Karena semua orang berfikir logis, jadi yang dilihat adalah gagasannya dan juga idenya.

            Dalam proses Indonesia yang masih merangkak menuju negara demokrasi ini, maka kaum terpelajar mempunyai peranan penting dalam pemilu untuk membimbing masyarakat untuk berfikir logis. Hal ini dikarenakan orang berpendidikan di Indonesia sangatlah sedikit. Dimana, menurut data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) sampai Juni 2022, hanya 6,41% yang sudah mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)/setara Sekolah Menengah Atas ada sebanyak 20,89%, yang berpendidikan hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebanyak 14,54%, sementara itu 23,4% penduduk Indonesia merupakan tamatan Sekolah Dasar (SD). Ditambah 11,14% yang belum tamat SD, dan penduduk yang tidak sekolah/belum sekolah mencapai 23,61%.

Adannya rasa tanggung jawab sebagai orang yang terpelajar di tengah masyarakat minim pendidikan pula lah, mungkin yang menyebabkan beberapa kampus semacam Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII), menyampaikan keprihatinannya dan menolak adanya pemilu curang sebelum diadakannya Pemilu.

“UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kok nggak ikut menyuarakan ya?!” Mungkin seorang Mahasiswa Baru (Maba) akan bertanya-tanya seperti itu.

“Civitas akademiknya UIN Malang mungkin lagi doa di masjid.” Ucap seorang mahasiswa yang lulusnya telat.

“Hah, kok gitu. Bukannya disini belajar keilmuan juga, ya?!” Ucap Maba itu.

“Ya, memang. Tapi, orang-orang disini pada takut dan hanya suka berdoa. Sebelum makan kita berdoa, setelah makan kita berdoa, dan sampahnya dibuang sembarangan dan tak dikelola. Disini, juga ada Jurusan Hukum Tata Negara, tapi kita hanya cari ijazah doang. Kita nggak mau peduli dengan nasib negara akan dipimpin siapapun, meskipun terlibat kasus penghilangan 98, melanggar kode etik dan melakukan kecurangan.”

            Pada akhirnya, ketika Civitas akademika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mempunyai ilmu dan jurusan Hukum Tata Negara tidak mengambil sikap. Maka, sejatinya Civitas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang telah lembaga menjadi yang penakut. Ya, sebuah lembaga penakut yang tak mau membicarakan rezim Jokowi dan politik dinastinya yang culas dan tak tahu malu. Seakan-akan tagline ‘ulul albab artinya adalah cukup hanya berfikir dan berdzikir untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan, lalu menjadi penakut untuk menyatakan kebenaran.