Jumat lalu saya kembali berburu buku. Ada Esai-Esainya Iwan Simatupang, Buku Khotbah diatas Awan oleh Kuntowijoyo, dan satu kumpulan cerpen Kritikus Adinan oleh Budi Darma. Saat itu saya sudah membaca sedikit, satu dua kalimat, buku novel dari Iwan Simatupang. Dan untuk pengecekan standar saya, yaitu mengecek review jujur di Goodreads sudah saya lakukan. Saya mantap.
Saya datang ke salah satu daerah perumahan jalan SoeHat, Malang. Memfotonya dan mengabarkan pada si penjual lewat Whatsapp dan akhirnya masuk. Di dalam rumah itu saya duduk dan diberi teh hangat. Maka akhirnya terjadi sebuah obrolan yang luar biasa, setidaknya bagi saya.
Gagap Membaca Chairil
Lama sekali saya telah memiliki buku dari H.B. Jassin, Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45’. Namun, saya masih bingung bagaimana saya harus membaca puisi-puisi itu. Puisi Chairil Anwar sering dibaca dalam pangung-pangung dengan gaya yang garang. Akan tetapi, saya sama sekali tak cocok gaya panggung seperti itu, lelah rasanya. Maka saya membaca puisi-puisi chairil sebagai puisi intim, atau individu dengan individu, atau untuk baca sendiri. Tapi saya masih suka Chairil Anwar.
Pada minggu sebelumnya, saya telah membeli buku Kritik Sastra milik Arief Budiman, adik Soe Hok Gie, yang berjudul Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan. Buku itu akhirnya memberikan gambaran singkat dan dalam sekaligus terhadap puisi-puisi Chairil. Yang ternyata puisi memang tak lepas dari masalah pribadi. Mungkin tepatnya, untuk membedah puisi, analisis psikologi sastra adalah mata pisau yang tepat. Saya ingin segara membuat resensinya dan mengirim di Semilir.
Kembali ke obrolan.
Saat itu, saat senja, saya bertemu dengan Pak Irwan Lesmana, seorang lulusan sastra UI tahun 1995. Di Obrolan itu kita membahas Chairil Anwar. Lalu beliau menerangkan bahwa puisi bagi dia ada dua jenis, yaitu puisi kamar dan puisi panggung atau pentas. Dimana ia menambahkan bahkan hampir semua puisi asalnya adalah puisi kamar.
“Lah, Rendra aja tuh awalnya juga penulis puisi-puisi kamar. Hanya setelahnya pulang dari luar negeri, ia menjadi penulis puisi panggung” Ucap beliau.
Saya mengiyakan dan paham dengan pembahasan ini. Adapun puisi Chairil, dari yang saya baca di buku Arief, memanglah dibuat dikamar dan tanpa ada tujuan untuk pementasan.
“Chairil ini dari Medan, sama dengan Iwan yang kamu beli itu. Namun bedanya Iwan ini pernah di Surabaya. Tapi sekali lagi, logat puisi dan sastra mereka tetap sama, khas orang Medan.”
Kami bercerita tentang dunia ala Bohemian Chairil, masa lalu Pak Irwan dan kembali perihal sastra-puisi kembali.
“Bagaimana sastra sekarang? Kalo dulu itu penulis yang wangi kayak Laksmi Pamuntjak.”
Saya jujur kepada beliau bahwa puisi sekarang adalah puisi-puisi yang menggalau dan tak jelas. Semua kalimat adalah kalimat yang dalam. Semua kalimat adalah kalimat yang sulit ditafsirkan. Bahkan bisa dikatakan puisi sekarang adalah puisi kosong, mendaki-mendaki kata minim rasa. Menurut Plato, sastra/puisi adalah penyuburan rasa.
“Semuanya kuncinya adalah membaca, sehingga rasa dan pikiran itu mengalir saja ketika mengalir. Ya, menurut saya sastra adalah 70% dari alam bawah sadar dan 30% kesadaran.”
Saya mengamini itu. Sekaligus saya merasa menjadi lebih mantap, mantap untuk memulai, menulis apapun juga. Saya adalah seorang pembaca yang haus.
Akhir Buku Akan Musnah
Saya meminta Pak Irwan mengeluarkan bukunya. Ia pergi ke dalam dan mengambil beberapa buku tambahan yang mungkin cocok buat saya. Ada buku tahun 80 an, kumpulan cerpen, buku-buku cetakan lama dan lain-lain.
Pak Irwan bertanya saya mau menjual kembali berapa. Saya menjawab tak akan menjual kembali. Ini adalah warisan untuk anak-cucu saya. Buku akan menjadi harta mereka kelak.
“Sama, dulu juga saya berfikir untuk membuat buku-buku ini untuk anak saya. Tuh, yang didalam masih banyak, saya mau jual yang kira-kira nggak terlalu sayang. Sedang buku-buku semacam Dunia Sofie ini, saya akan simpan untuk anak saya yang kedua. Yang besar (seorang gadis yang saya melihat sekelebat) udah baca, yang balita ini yang belum. Saya sadar, jaman sekarang sudah ada gawai yang menghapus semua dan lebih cocok untuk mereka. Jadi saya akan jual beberapa dan kalo kamu ada orang kalimantanan yang mau beli rumah ini, rumah 1,8M, nanti saya kasih komisi.” Ucap beliau sambil memegang buku Dunia Sofie.
Jauh dari tempat mengobrol itu, didalam bagian terdalam diri saya muncul sebuah kesimpulam bahwa penulis lama adalah penulis bagus. Penulis lama adalah penulis yang membaca. Bagi saya, mereka adalah Gold D. Roger yang menyimpan harta. Berupa buku-buku yang telah menghilang di pasaran dan mungkin tak akan dicetak lagi. Saya sekarang adalah pemburu harta karun alias bajak laut, dari generasi terburuk.
Saya pulang jam 21.00, lalu pergi ke Kunil, tempat kopi. Disana ada Delta dan kawan-kawan. Di sepanjang jalan saya memikirkan betapa beruntungnya saya mendapatkan buku-buku tua, buku yang akan menghilang di generasi ini. Buku cetakan 2000-2010 saja sudah menghilang dari pasaran dan digantikan buku-buku yang mengikuti pasar ala-ala Gramedia.
Lanjut di Kunil.
Di kunil saya bertemu dengan adeknya Mas Wahyu. Dia menceritakan bagaimana bagusnya Novel Ziarah karya bagus secara penggambaran. Dia pun mengajak untuk ke Trenggalek untuk membacanya.”Tapi jangan dibawa pulang!,” tambahnya

0 Komentar