Jum’at, 29 Desember 2023

Asrur membagikan tulisan di group Inovasi:

Inilah tulisan yang menghebohkan di penghujung tahun 2015, mendapat tanggapan ramai kalangan netizen sampai awal tahun 2015. Dari diskusi yang dingin sampai debat yang panas. Barangkali, saat itu, tulisan ini memang betul-betul dipahami atau justru disalahpahami?


Catatan Minggu

INILAH SENJAKALA KAMI...

Oleh: Bre Redana


    Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat. Terakhir, si penghujung tahun, Ignatius Haryanto, pengamat pers yang luas referensinya, salah satu anggota Forum Ombudsman surat kabar kami, memberikan notifikasi dengan judul Senjakala Surat Kabar di Indonesia? Pertanyaan lebih lanjut ia ajukan: apakah ini akhir peradaban surat kabar cetak saat ini?

    Faktor-faktor yang mendasari pertanyaannya berupa kondisi yang niscaya sudah diketahui banyak orang, antara lain perkembangan teknologi digital. Ini membawa konsekuensi bisnis. Pengiklan memilih berinvestasi pada media yang lebih gumebyar seperti televisi, dengan penyiar yang kinyis-kinyis, berikut kru lapangan yang militan, sampai kalau perlu mengabaikan tata krama. 

     Harus diakui, media cetak, koran, majalah, buku, kebiasaan membaca yang mendasari tradisi dan terbentuknya sivilisasi manusia sampai penghujung millenium kedua, sebagian kini tinggal kenangan belaka. Termasuk jurnalisme. 

    Di mana pun di dunia, jurnalisme berangkat dari semangat coba-coba, didasari kebutuhan untuk mengembangkan fondasi kultural bagi perkembangan masyarakat. Semangat tersebut menyemaikan atmosfer kerja yang setengahnya beraura misi suci, menegakkan kebenaran, mengembangkan compassion, mengeksplorasi truth alias kasunyatan. Para pelakunya adalah figur-figur otodidak, yang pada perkembangannya sebagian, memiliki kewibawaan intelektual melebihi doktor. 

        Kalau kemudian muncul sekolah atau pendidikan jurnalisme, itu semata-mata reaksi pedagogis dari kesadaran akan kurangnya endorsement akademik pada bidang pekerjaan ini. Pada perkembangannya, namanya bukan lagi jurnalisme, tapi ilmu komunikasi, komunikasi sosial, marketing dan komunikasi, dan lain-lain. Spektrum pendidikannya terus meluas, kini mencakup multimedia dengan multiplatform, atau di masa mendatang entah apa lagi, karena yang sekarang pun saya kurang paham apalagi yang akan datang. 

Inilah era baru dunia media massa, dengan sifat bergegas, serba cepat, tergopoh-gopoh. Mereka berilusi menampilkan informasi yang pertama, yang tercepat, sekaligus lupa, bahwa yang pertama belum tentu yang terbaik. 

        Seorang teman yang berkecimpung sejak lama di dunia public relations menuturkan, enak menghadapi wartawan sekarang. Tinggal sediakan press release. Mereka melakukan copy paste dari press release tadi apa adanya. Tidak perlu pusing menjawab pertanyaan, karena mereka tidak bertanya. Dalam press tour ke luar negeri untuk peliputan masalah tertentu, pertanyaan hanyalah kapan free time atau waktu senggang. Mereka ingin jalan-jalan, belanja. 

        Dalam konstelasi baru media, koran disebut “media konvensional”. Boleh jadi konvensional wartawannya, yang memegang notes, pulpen, mencatat yang diomongkan sumber berita. Wartawan media mutakhir tidak mencatat. Mereka khusyuk dengan gadget. Barangkali merekam, mencatat, atau bisa saja tengah berhubungan entah dengan siapa. Istilahnya multitask. Sambil mendengarkan yang di sini, berhubungan dengan teman yang di sana, pacar, saudara, dan lain-lain. 

        Sikap seperti itulah yang tidak bisa diikuti wartawan konvensional. Kami tidak mendelegasikan otak kami pada alat rekam. Kami sadar akan signifikansi kehadiran, being there. Internet menyediakan semua data, tapi dia tidak akan pernah bisa menggantikan proses pertemuan dan wawancara. Wawancara bukanlah penampungan omongan orang, melainkan konfrontasi kesadaran. Pada kesadaran ini terdapat dimensi lain dari jurnalisme, semacam dimensi nonteknis taruhlah moral, etik, dan kemanusiaan. 

        Tahun segera berganti. Inikah senjakala surat kabar? Sekadar mengingatkan para juragan: di balik cakrawala senja, nilai-nilai di atas tetap diperlukan manusia.


Sumber: Kompas, 27 Desember 2015


Jawaban saya: 


Bagi saya sekarang, saya sudah lumayan enggan membaca berita lewat koran atau majalah cetak, terkhusus majalah atau koran yang serampangan dalam meletakkan iklannya. Majalah atau koran sendiri bagi saya, yang mahasiswa, sangatlah sulit untuk membelinya dan habis selesai mau diapakan adalah persoalan baru yang muncul. Dibuang, dibakar, atau dibuat bungkus gorengan atau ikan pindang?




Tanpa disangka kita telah memasuki dunia yang serba terburu-buru, jurnalisme sepertinya juga seperti itu. Ada jurnalis bodrex yang disinggung Linda, ada juga jurnalis pers conference yang yang disinggung oleh Dandhy. Dicatatannya Linda, dia menggambarkan kebimbangan menjadi wartawan bodrex atau menjadi wartawan biasa yang jujur tetapi melarat. Linda seorang yang sama seperti saya, pengagum Gie dan dia tetap aktivis. Lalu Dandhy, ia memikirkan betapa buruknya jurnalisme di pertelevisian dan buruknya  perilaku wartawan yang tak mau memverifikasi apa-apa yang telah mereka dapat dari sumber semacam polisi. Dandhy seorang Idealis bagi saya, dan dia menang.

Kembali ke media cetak.

Media cetak menurut dandhy punya keterbatasan untuk menyampaikan sesuatu, ada gambar yang harus dibatasi, ada cost yang besar, dan ada keterbatasan yang nyata dalam media cetak. Tambah dandhy, media internet adalah paket lengkap yang bisa menunjukkan bukti, suara, data, dan gambar sekaligus. Yang dalam catatan saya di buku Dandhy tersebut,”Internet mampu memberikan paket lengkap menunjukan bukti dan gambar yang leluasa dan sangat mencerdaskan.” Maka, apabila saya menulis apapun, saya akan lebih senang menulisnya di internet.


Hanya menjadi senja, tapi tak bisa mati


“Kalo sekarang media cetak semacam koran gimana mas?” Tanya safly kepada Mas June

“Orang-orang tua tetep masih lebih percaya ke media cetak. Menurun tapi tetep jalan kok.” Jawaban beliau sambil menyusuri setapak-setapak menuju UKM tercintanya seinget saya.

Ya, media cetak tetap ada dan tetap menjadi sebuah media yang menyakinkan. Yang saya rasa, hal ini dikarenakan media cetak itu benar-benar ‘ada secara ragawi’ dan sentimen sebagian masyarakat kita terhadap internet dikarenakan campur aduknya informasi dan singkatnya informasi. Ada juga yang sudah berkompromi, seperti dosen-dosen saya yang suka sekali menggali berita lewat internet dan langsung menelan mentah-mentah dari wartawan kesusu. 

Seperti contoh, kasus pembakaran bromo oleh sepasang pengantin yang membawa flare, oleh dosen saya memberikan komentar di kelas. 

“Kalian tuh kalo ngapain-ngapain ndak usah goblok-goblok amat. Udah salah malah mau nuntut balik.” Seinget saya seperti itu, Bu Rachma yang sering berkonflik dengan saya, perihal rambut gondrong  lalu viral di twitter dan juga saya meminta uang 30k saat dia menyuruh saya potong rambut, tapi saya malah buat tambalan makan di akhir bulan. Hehehehe

Jalan kasus Bromo itu ternyata lebih menarik. Ternyata dari keterangan Mas Icil, sumber api itu sudah ada ditempat yang lain dan sudah ada sebelum sepasang pengantin itu menyalakan flare. Maka, akhirnya cerita ini menjadi logis. Pertanyaan, “Kenapa pengantin berani melaporkan balik?” menjadi terjawab sudah. Namun, pertanyaan lain muncul,”Apakah coverbothside suatu berita bisa diadakan di berita yang lain itu boleh? Bagaimana jika seorang pembaca hanya membaca satu berita saja? Bukankah kemauan dan kemampuan membaca orang indonesia rendah? Nanti seperti kasus Bromo itu dong, banyak yang salah kaprah?!” (Ini adalah perenungan dari hasil saya menguping pembicaraan Mas Icil dan Mas Wahyu ketika USJ)

Idealisme dan dunia

Saya juga ada di masa senjakala sekarang, dan ada dipenghujung yang amat sulit. Malam, siang, hitam, putih, dan abu-abu saya telah alami di sini, Malang. Kota ini bagi saya adalah kota yang berat dan melelahkan, seperti saya ada di dasar jurang dan harus berkompromi atas nilai-nilai dalam diri saya. Dan itu adalah idealisme bagi saya

kata “Idealisme” yang dikeluarkan bapak saya kepada saya adalah sebuah ejekan dan teguran bahwa saya harus tau juga, ‘kapan harus berbohong, bersenyum diri atas joke yang tak lucu, serta kompromi terhadap yang saya percayai terhadap dunia yang busuk ini/orang-orang yang busuk ini.’

“Persoalan paling hakiki adalah mengapa manusia tidak bunuh diri?” Albert Camus

Saya pikir jawabannya sederhana, manusia masih mempunyai harapan, seperti yang ditulis Goenawan dalam esainya. Nah, harapan untuk bertahan atau tidak, atau pun ingin tetap hidup atau bunuh diri saja, bisa berdasarkan dari adanya teman atau tidak. Idealisme bagi saya juga begitu. Ketika saya sudah ada di penghujung jurang, saya menemukan Inovasi. Inovasi yang masih bertahan untuk idealis, memihak hati nurani.

“Setelah lulus mau mencari wadah kemana dan apakah bisa menjadi idealis?” Pertanyaan saya kepada saya.

“Saya akan bergabung dengan Literasi Sosial (Komunitas baca di Magelang) dan mungkin akan bergabung dengan Dandhy dan kawan-kawan.” Jawaban saya setelah PKL dua bulan di Wonosobo.

“Apakah kamu tidak bermimpi untuk bergabung dengan mereka?”

“Saya tak peduli itu mimpi atau tidak. Modal saya hanya suka membaca dan menurut saya itu sudah lumayan cukup untuk berada di Indonesia.”

Dandhy, Linda, Arief Budiman menang dan tetap idealis. Mungkin, perenungan dalam Catatan Seorang Demonstran,”Apakah Gie akan tetap Idealis ketika berumur panjang?”, sudah terjawab. Dia akan tetap idealis dan saya juga akan tetap begitu, dengan mencari-cari wadah baru.